PENGELOLAAN UTANG DAN MENGUKUR OUTPUTNYA BAGI NEGARA

Oleh: Muhamad Dahlan & Andri Kosasih
Alumni Pasca Sarjana MPKP FEUI
Dalam sebuah cerita kuno, seorang wanita cantik menginginkan berpasangan dengan pria superpandai. Harapannya, kelak hidup nyaman, memiliki keturunan secerdas bapaknya dan seanggun ibunya. Jalan seperti ini diambil karena begitu menggoda. Instan, cepat dan efektif.Seperti keputusan negara berutang untuk menutupi celah defisit anggaran yang disinyalir mampu menjadi instrumen fiskal yang dapat menciptakan multiplier ekonomi. Lantas mampukah utang menjadi solusi modal untuk membangun? Bukankah efektifitas alokasi utang menjadi penentu pembangunan itu sendiri?

Akhir Maret 2009 total utang Indonesia mencapai 151 miliar dollar AS. Utang ini ekuivalen dengan 33,9 persen dari GDP. Dari sisi volume, utang tersebut berada dalam batas ambang aman. Namun dari sisi penggunaan, 66 persen lebih dimanfaatkan untuk pembiayaan sektor non tradable, dimana 59 persen digunakan oleh pemerintah, 5,8 persen oleh sektor perbankan dan 1,5 persen oleh otoritas moneter. Hanya 33,4 persen yang digunakan untuk sektor tradable.

Dari sini kita memahami mengapa berutang begitu banyak mengundang kontroversi. Artinya kebijakan berutang yang tidak diimbangi dengan efektifitas alokasi utang tidak mampu mendorong sektor tradable. Indikator yang sejalan dengan inefektifitas penggunaan utang terlihat dari lemahnya daya serap tenaga kerja pada sektor manufaktur yang hanya 420 ribu tenaga kerja. Bandingkan dengan daya serap sektor kemasyarakatan yang melampaui 1,82 juta tenaga kerja.

Investment Multiplier

Lantas mengapa berutang? Utang masih dapat dibenarkan ketika bertujuan untuk mendorong output nasional melalui peningkatan kapasitas produksi nasional. Dengan demikian berutang dapat diibaratkan memanfaatkan keuntungan di masa depan sebagai modal saat ini atau invesment multiplier.

Sayangnya alasan ideal ini justru tidak berlaku. Utang baru yang banyak diserap oleh pemerintah lebih banyak dialokasikan untuk menutupi beban utang masa lalu yang pada akhirnya justru memperbesar defisit anggaran. Lingkaran defisit anggaran ini sudah berjalan sejak lama dan pemerintah sepertinya tetap menganggap utang adalah satu satunya jalan keluar untuk dapat keluar dari himpitan defisit. Padahal himpitan defisit tidak akan terselesaikan dengan berutang jika alokasi utang tetap tidak efektif.

Ada yang mengatakan pembelian surat utang dan obligasi negara oleh lembaga asing secara besar-besaran kerap kali bertujuan untuk menekan nilai tukar mereka serta memperkuat nilai tukar domestik. Pada gilirannya penguatan nilai tukar rupiah akibat dorongan faktor eksternal itu justru mengintimidasi industri dalam negeri. Akibatnya ekspor akan melemah dan menyuburkan impor. Penguatan rupiah seharusnya terbentuk dari kemampuan domestik yang semakin baik dan bukan karena faktor eksternal.

Peningkatan investasi domestik sebaiknya diimbangi juga dengan peningkatan tabungan domestik. Fenomena home bias harus terus diupayakan agar terus menguat. Home bias adalah kecenderungan sempit investor untuk menginvestasikan tabungannya di dalam negeri meskipun hal ini berarti melewatkan peluang investasi di luar negeri. Ketika koefisien korelasi home bias mendekati 1 berarti tabungan negara akan setara dengan investasi.

Pada titik ini utang akan mampu menjadi stimulus fiskal yang merangsang peningkatan investasi yang dibiayai oleh tabungan rumah tangga, perusahaan dan pemerintah. Investasi untuk membangun pabrik, perlengkapan, cadangan dan perumahan akan mampu menekan ketidakseimbangan eksternal. Dari titik ini defisit akan berkurang dan utang ikut menurun dengan sendirinya.

Selain itu, utang perlu diupayakan agar mampu menjadi faktor penghalang larinya modal domestik ke luar negeri. Kondisi semacam ini dengan sendirinya akan menciptakan pasar semakin kompetitif sehingga risiko investasi berkurang.

Pembanding Setara

Terlepas dari pro dan kontra mengenai utang, yang harus disikapi justru berfokus pada efektifitas penggunaannya. Kemampuan semu yang tercipta dengan membandingan proporsi utang Indonesia terhadap GDP dengan proporsi utang negara-negara maju seperti Jepang yang mencapai 170,4 persen dari GDP, Jerman (62,6%), Amerika Serikat (60,8%) atau Kanada (62,3%) akan menjebak kita pada kesalahan yang lebih panjang pada pengalokasian sumber daya pembiayaan pembangunan. Kesalahan ini juga akan menciptakan lingkaran setan defisit anggaran belanja negara.

Nampaknya akan lebih bijak jika kita membandingan proporsi utang terhadap GDP kita dengan negara emerging market seperti India (18,9%), Cina (11,6%), Brazil (18,7%), Thailand (26,5%), Malaysia (29,4%) atau Afrika Selatan (15,8%). Bahkan rasio pembayaran bunga dan pokok utang terhadap penerimaan ekspor (debt service ratio) negara-negara itu jauh dibawah kita. Jika Indonesia memiliki rasio 10,5 persen, India, Cina dan Malaysia hanya 4,8 persen, 2,2 persen dan 4,6 persen.

Dasar keputusan negara emerging market berutang adalah untuk meningkatkan kapasitas produksi nasional melalui investasi pada sektor tradable. Utang, bagi mereka, akan memperkuat stabilitas makro ekonomi sehingga kebijakan utang tidak mengarah pada peningkatan premium risk. Namun utang tetap mereka tempatkan sebagai penyelesaian akhir untuk menutupi kebutuhan anggaran.

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Jika utang sulit dihindarkan, pastikan alokasinya tidak menyimpang. Penyimpangan alokasi utang dari tujuan awal justru menjebak kita pada government failure yang lebih parah. Invesment multiplier yang diharapkan justru berubah arah menjadi jebakan utang yang mengganggu keseimbangan ekonomi domestik.

Kita semua berharap kegagalan kebijakan utang yang disebabkan oleh disalokasi utang yang tidak tepat, tidak terjadi seperti cerita wanita cantik yang memilih sang super pandai, jika pada akhirnya melahirkan anak bodoh dan buruk rupa.

 

 

 

sumber: http://www.fe.iluni.or.id/hal/berita/detail/463/pengelolaan_utang_dan_mengukur_outputnya_bagi_negara.html

Memahami Esensi Krisis Global

Memahami esensi krisis global

Seperti nightmare, krisis keuangan membangunkan banyak pihak yang tertidur lelap di Wall Street. Mimpi buruk akan kebangkrutan menghantui banyak pelaku pasar yaitu kekeringan likuiditas. Presiden George W. Bush coba menenangkan pasar lewat program bailout sebesar US$700 miliar, dengan harapan usia krisis dapat diperpendek. Namun, sampai saat ini pasar masih terus bergerak menuju titik curam.

Risiko tidak berhenti. Risiko bergerak mengikuti angin juga masuk ke lantai Bursa Efek Indonesia. Kepanikan menyeruak ke dalam relung pemilik modal, IHSG terjun bebas dari 2.700 menuju level 1.450-an. Ada kesan pemerintah tergesa-gesa dalam menetapkan kebijakan. Pelaku usaha kehilangan informasi sehingga semua berjalan sendiri-sendiri. Terjadi ketakutan demi ketakutan.

Sekarang, mari kita kaji lebih tenang dampak krisis global agar ke depannya kita dapat merespons semua kejadian dengan lebih bijak. Dengan perangkat Social Acounting Matrix (SAM), kita dapat melihat komponen ekonomi yang akan terpengaruh jika krisis global terus berlangsung hingga 2009.

Dengan melakukan shock pada pendapatan faktor produksi dari luar negeri, transfer luar negeri, ekspor dan pinjaman luar negeri sebesar minus 20%, terlihat bahwa semua komponen faktor produksi tidak berpengaruh secara signifikan.

Dampak bagi faktor produksi tenaga kerja dirasakan tidak berarti yaitu di bawah 2%. Tekanan terbesar dirasakan oleh tenaga kerja buruh kasar dengan kontraksi pendapatan riil sebesar 1,32%, sedangkan pendapatan riil pemilik modal terkoreksi 0,89%.

Pada neraca institusi, dampak yang dirasakan juga kurang dari 2%. Rumah tangga buruh tani merupakan institusi yang mengalami kesulitan tertinggi yaitu 1,42%. Rumah tangga golongan atas desa hanya merasakan dampak sebesar 1,19%.

Dari pelemahan pendapatan riil masyarakat itu, pemerintah pun kehilangan potensi pajak sebesar 1,53%. Perusahaan swasta menanggung kerugian rata-rata 0,62%.

Untuk sektor usaha, dampak terbesar dirasakan oleh sektor keuangan, realestat, hiburan, pariwisata, jasa pemerintah dan jasa sosial sebesar 3,25%. Sektor pertanian, kehutanan, perdagangan, angkutan dan komunikasi serta sektor air, listrik dan gas cenderung lebih kecil pengaruhnya.

Derivatif
Jika melihat fenomena di atas, ada benang merah yang dapat ditarik sebagai kesimpulan, yaitu, lemahnya keterkaitan antara pasar finansial dan pasar barang. Pergerakan IHSG yang terus turun tajam tidak mencerminkan kondisi riil di pasar barang.

Dengan demikian, tidak ada alasan bagi kita untuk cemas. Rasa aman dan nyaman harus tetap diberikan bagi para pelaku usaha maupun investor. Mekanisme ekonomi membuktikan bahwa kondisi ekonomi domestik relatif aman.

Jika kecemasan dan ketakutan tidak dikelola dengan baik, lama kelamaan iklim kondusif yang dibina selama ini akan sirna. Bahkan, jika kepanikan yang ada diikuti dengan tindakan ekonomi krisis domestik justru akan benar-benar terjadi. Sekali lagi, bukan karena mekanisme ekonomi, melainkan sebagai akibat transaksi derivatif.

Fenomena ekonomi di Amerika memberi pelajaran bagi kita bahwa tindakan ekonomi haruslah rasional. Kebebasan yang seluas-luasnya bagi individu untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya harus dibatasi.

Bagaimanapun juga semua kebebasan pada akhirnya mendorong elemen paling purba dalam diri manusia, yakni ego dan serakah. Adam Smith mengajarkan kita untuk memahami The Theory of Moral Sentiments (1759) terlebih dahulu, baru beranjak pada “The Wealth of Nations (1766).

The Invisible hand baru akan membimbing kita pada gerak hidup di alam ini jika mengikuti nilai-nilai moral yang tecermin dalam dua aturan, keadilan (rules of justice) dan etika (rules of morality).

Hilangnya hal ini, yang membuat kerusakan pasar finansial dunia saat ini. Semua individu dan kelompok berlomba-lomba mengumpulkan keuntungan pribadi sebanyak-banyaknya tanpa memerhatikan keseimbangan ekonomi.

Kelebihan di satu sisi dunia akan membawa kekurangan di sisi lain. Mereka lupa bahwa selain sebagai individu, mereka juga merupakan bagian dari masyarakat dunia. Ketika sebagian besar surplus ekonomi yang tercipta hanya dinikmati oleh segelintir orang maka ada adjustment secara alamiah yang akan mengembalikan keseimbangan ekonomi pada posisi semula.

Mungkin kita lupa bahwa segala tindakan dan aktivitas kita terkait dengan tindakan dan aktivitas lainnya. Ketika sebagian orang merasa tertindas dan tersingkir dalam pembagian kue ekonomi, maka sebagian besar masyarakat dunia akan berontak dan melawan bagian kecil yang lain.

Hukum alam mengharmonisasikannya dalam bentuk koreksi sosial dan kekuatan perlawanan bersama terhadap ketidakadilan yang muncul. Inilah hukum simultan ekonomi yang tidak mungkin dihindari.

Memori kita kembali diingatkan pada kejayaan Portugal di awal era merkantilisme. Pada masa itu hampir seluruh kekayaan terkumpul di negara tersebut dalam bentuk emas. Sebagian besar masyarakat dunia berontak dan menuntut keadilan.

Di akhir kejayaannya, seluruh warga dunia menyepakati mengubah alat tukar dari emas menjadi alat tukar lainnya. Dalam sekejap negara terkaya di dunia menjadi termiskin.

Akhirnya kita setuju bahwa keserakahan akan menciptakan disequilibrium ekonomi. Bentuknya dapat berupa kepanikan. Oleh karena itu, berusahalah memulai tindakan ekonomi ke depan dengan ekspektasi yang jernih dan rasional. Tindakan ekonomi harus mengindahkan rambu-rambu keadilan dan kesejahteraan bersama agar tidak terjebak dalam transaksi derivatif.

Oleh Andri Kosasih
Technical Research Advisor Dyandra & Co

Andri Kosasih, Alumni Pasca FEUI

Dimuat Harian Bisnis Indonesia 21 Okt 2008
http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-harian/opini/1id84475.html

 

 

sumber: http://www.fe.iluni.or.id/hal/berita/detail/432/memahami_esensi_krisis_global.html

Kiat Melakukan Pemasaran Melalui Facebook

Dengan semakin banyaknya media jejaring sosial, maka sangatlah penting untuk melakukan pemasaran di Facebook dengan cara yang benar jika anda ingin berhasil. Saat membuat profile anda, pastikan anda fokus kepada diri anda sebagai pribadi.

Jika Anda ingin mendapatkan slide powerpoint presentasi yang bagus tentang management skill, strategi bisnis dan leadership skills, silakan KLIK DISINI.

Orang-orang akan berhubungan lebih baik kepada seseorang sebagai pribadi dan tidak kepada orang yang berorientasi bisnis. Tidak menjadi masalah anda melakukan promosi di Facebook, selama ini dilakukan dengan indah. Orang-orang ingin mengenal anda terlebih dahulu sebelum bergabung dengan bisnis dimana anda terlibat di dalamnya. Jujurlah tentang diri anda di profile anda.

Ceritakan kepada mereka tentang apa yang anda sukai, ketertarikan anda, dan hobi-hobi anda. Semakin nyata diri anda, semakin bagus hubungan yang akan anda ciptakan. Ada beberapa tip pemasaran di Facebook dan trik yang dapat anda ikuti jika anda ingin berhasil melakukan pemasaran di Facebook.

Facebook benar-benar merupakan tempat yang bagus untuk melakukan pemasaran bisnis jika dilakukan dengan cara yang benar. Jumlah pengunjung yang mereka terima di situs web mereka setiap harinya adalah sangat luar biasa. Mereka saat ini memiliki peringkat trafik 2 (alexa.com). Satu-satunya situs yang memiliki trafik diatasnya adalah Google. Bagian yang terpenting adalah anda dapat memasarkan di Facebook dengan gratis. Tidak ada yang lebih baik daripada pemasaran yang gratis.

Merupakan hal yang penting untuk membuat page Facebook terpisah dari halaman profile anda jika anda ingin melakukan pemasaran bisnis anda. Membuat halaman Facebook akan menciptakan perhatian terhadap brand anda dan juga meningkatkan peringkat anda di mesin pencari. Anda mungkin hanya memiliki satu profile saja, tetapi anda dapat memiliki banyak halaman bisnis yang terhubung ke profile anda.

Cara anda membangun peringkat halaman anda adalah dengan meningkatkan jumlah penggemar yang anda terima. Semakin banyak orang yang menjadi penggemar anda, semakin bagus peringkat anda. Anda dapat mempromosikan halaman bisnis Facebook anda dengan menghubungkannya ke situs web anda, blog, lensa Squidoo atau banyak situs media sosial lainnya. Jika anda memiliki akun Twitter anda dapat menghubungkannya ke profile Facebook anda. Saat anda melakukan pembaharuan di Twitter anda, maka anda juga akan otomatis mengupdate Facebook.

Jika Anda ingin mendapatkan slide powerpoint presentasi yang bagus tentang management skill, strategi bisnis dan leadership skills, silakan KLIK DISINI.

Sejak orang-orang dibanjiri dengan peluang-peluang bisnis
dengan adanya internet saat ini, orang-orang merasa perlu mengetahui dengan siapa mereka terlibat sebelum mereka bergabung dengan peluang bisnis yang ditawarkan. Dengan internet yang sangat tidak personal dan otomatis, orang-orang sangat berhati-hati tentang dengan siapa mereka melakukan bisnis.

Ingatlah bahwa ada jutaan orang yang melakukan bisnis online setiap harinya. Anda harus menempatkan diri anda berbeda dari marketer yang lain. Berita bagusnya adalah hanya ada satu anda saja. Itulah mengapa betapa pentingnya supaya orang-orang dapat mengenar anda yang sebenarnya. Bersosialisasilah dan jangan hanya selalu melakukan posting tentang peluang bisnis anda saja.

Pastikan bahwa anda memilih gambar yang bagus di profile anda. Pilihlah gambar yang jelas dan menampilkan senyuman anda. Anda juga dapat menambahkan banyak gambar ke album foto anda. Tambahkan gambar bersama keluarga anda, saat anda liburan, foto yang cantik, dan segala hal yang menunjukkan anda sebagai seorang pribadi, pastikan juga bahwa foto yang anda pilih adalah sesuai. Saat melakukan permintaan ke teman, akan lebih baik untuk memperkenalkan diri anda ke orang yang anda inginkan.

Facebook adalah cara yang hebat untuk terhubung dengan orang-orang di seluruh dunia. Jika anda fokus menciptakan brand anda sebagai seorang probadi, dan mengikuti peraturan yang tepat, maka anda akan berhasil dalam melakukan pemasaran di Facebook.

sumber : http://rajapresentasi.com/2010/02/kiat-melakukan-pemasaran-melalui-facebook/

Akuisisi Merek, Jalan Pintas Penuh Risiko

Akuisisi merek adalah sebuah pertaruhan yang tak mudah. Namun, di tengah tekanan besar kalangan investor terhadap dunia usaha untuk terus berkembang — suatu hal yang sering tak gampang dipenuhi hanya dengan pertumbuhan organik — strategi yang satu ini merupakan alternatif menarik. Apalagi, banyak bukti menunjukkan bahwa dengan mengandalkan (merger dan) akuisisi, sebuah perusahaan dapat melakukan lompatan kuantum, bahkan mengibarkan diri jadi yang terbesar.

Ambil contoh General Motors (GM). Kampiun asal Detroit ini mampu mengalahkan pionir produksi massal produk otomotif, Ford Motor Co., bahkan mengibarkan diri jadi perusahaan manufaktur terakbar melalui akuisisi beragam merek di berbagai belahan dunia. Jejak (merger dan) akuisisi tersebut terlihat jelas dari portofolio merek yang mereka miliki. Zafira yang di Amerika Serikat dipasarkan di bawah bendera Chevrolet, misalnya, di Eropa saja mengusung lebih dari satu bendera — termasuk Opel (di Jerman) dan Vauxhall (di Inggris). Di Australia, produk multipurpose vehicle andalan GM ini dipasarkan sebagai Holden Zafira.

Belakangan, GM (dan Ford Motor Co. yang juga menawarkan produk khusus untuk setiap negara, walau menggunakan merek Ford) terpuruk di tengah pasang naik industri otomotif Jepang. Sukses Toyota, Nissan, Honda, dan lain-lain ini membuat banyak pakar mempertanyakan ampuhnya akuisisi merek — bahkan merger dan akuisisi (M & A) secara umum.

Selengkapnya ….

Sumber: Riset: Mahendra (http://swa.co.id)

 

Tren Perilaku Belanja di Mal

Pusat pembelanjaan atau mal banyak bertaburan di kota-kota besar, terutama di Jakarta. Mal-mal baru terus bermunculan. Bagi konsumen atau penikmat jalan-jalan, tentu ini kabar menggembirakan. Mereka memiliki banyak pilihan. Namun, di sisi lain, terjadi persaingan antarmal memperebutkan pengunjung. Tak ayal, pengelola mal berkepentingan menarik pengunjung menjejali malnya.

 

Bagaimana perilaku para pengunjung di mal? Ini juga perlu diketahui. Dalam rangka itu, sebuah survei dilakukan dengan melibatkan 512 responden yang tinggal di berbagai perumahan di Jakarta dan sekitarnya. Pengambilan sampel memakai metode cluster. Survei dilakukan sebulan penuh pada Februari 2010 oleh Consumer Survey Indonesia (CSI).

 

Beberapa temuan menarik dapat dikemukakan di sini. Pertama, rata-rata frekuensi kunjungan orang ke mal adalah 6,5 hari sekali dengan variasi wanita tiap 6,1 hari sekali dan pria 7,1 hari sekali. Ini mengindikasikan wanita lebih doyan ke mal dan akhir pekan menjadi waktu yang pas untuk jalan-jalan. Temuan kedua mengenai durasi di dalam mal. Hasil riset menunjukkan rata-rata tiap orang menghabiskan 3,5 jam sekali kunjungan. Angka ini kalau dikonversikan ke satu tahun menghasilkan lama kunjungan 197 jam. Artinya, selama setahun orang mengisi hidupnya selama 197 jam di mal.

Selengkapnya ….

Sumber: Istijanto Oei (Eksekutif Riset Consumer Survey Indonesia, www.istijanto.com)